Penelitian Kognitif dan Kecerdasan Artifisial (AI)
11.08.18 / Isti Dhaniswari

Sebuah “brain mouse” suatu hari akan memungkinkan kita untuk mengontrol aplikasi augmented reality (AR) dengan menggunakan antarmuka otak yang tidak terhubung secara fisik dengan otak.

Sebuah pandangan ke masa depan diperlihatkan oleh Regina Dugan, yang sebelumnya bekerja sebagai Direktur DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) dan mantan karyawan anak perusahaan Google, ATAP (Advanced Technology and Projects) dan di laboratorium hardware Facebook rahasia, Building 8. Sebuah “brain mouse” suatu hari akan memungkinkan kita untuk mengontrol aplikasi augmented reality (AR) dengan menggunakan antarmuka otak yang tidak terhubung secara fisik dengan otak. Lebih spesifik, Facebook meriset metode-metode pencitraan optik yang memungkinkan proses penapisan “kuasi foton balistik” yang mengirimkan signal-signal nirkabel antara otak dan komputer.  Tujuan utama riset grup ini adalah menggunakan metode tersebut untuk menciptakan komunikasi buatan dengan kemampuan 100 kata per menit untuk penggunaan AR, yang menurut Dugan, akan terealisasi dalam tiga tahun setelah 2017.

“The Voxel Chair v1.0” yang dibuat dari plastik PLA biodegradable berwarna biru merupakan sebuah improvisasi model kursi ikonik berbentuk S karya desainer asal Denmark, Verner Panton. Kursi Panton memiliki permukaan halus yang optimal untuk dicetak. Kursi Voxel adalah kebalikannya: memiliki volume bagai awan yang optimal bagi ekstrusi robotik. Alur plastik yang berjalan berkesinambungan membentuk sebuah kursi yang dibangun oleh robot dan didesain dengan menggunakan perangkat lunak cetak 3D buatan tim dari Bartlett School of Architecture, London. “Pendekatan ini bukan hanya fungsional dalam hal kinerja, tetapi itu juga memberikan kesempatan kepada para desainer untuk benar-benar bekerja secara langsung dengan jumlah data yang luar biasa,” menurut Manuel Jiménez dan Gilles Retsin. “Daripada mendesain bentuk dari kursi, kita mendesain perilaku dan sifat dari material secara langsung”.

Desain terdematerialisasi, seperti yang terlihat pada perkembangan kecerdasan buatan, mengisyaratkan jika AI mampu menggantikan fungsi seorang desainer. Owen Williams menulis di Medium “Bagaimana Desain Diubah oleh Hal-Hal yang Tidak Kita Lihat” mengungkapkan jika peranan desainer berubah secara drastis. Di masa depan di mana kita mendesain dari chatbot interface ke karakter suara untuk produk-produk seperti Amazon Echo assistant, membuat desain menjadi sebuah teka-teki: apakah makna hakiki dari mendesain sesuatu yang tak terlihat atau bahkan tak teraba?

Kita bergerak secara cepat kearah masa depan di mana interaksi sentuhan digunakan bahkan lebih sedikit dari sentuhan natural. Tidak lama lagi, kita akan lebih banyak berbicara dengan perangkat elektronik daripada menyentuh mereka, dan itulah sebuah paradigma antarmuka pengguna yang baru. Kita memiliki kekuatan untuk merubah bagaimana pengguna merasakan interaksi dengan produk dalam hampir semua level. Saatnya untuk berfikir di luar bidang persegi di tangan kita, atau gelembung pesan di layar.

 

Dalam artikel di Fastco Design “Pekerjaan Paling Penting di Masa Depan”, menyebutkan 18 jenis profesi terpenting dalam desain, yang dinyatakan oleh para pelaku bisinis desain terkemuka: Augmented Reality Designer, Avatar Programmer, Chief Creative Officer, Chief Drone Experience Designer, Conductor, Cybernetic Designer, Director of Concierge Services, Embodied Interactions Designer, Fusionists, Human organ designer, Intelligent System Designer, Interventionist, Machine-Learning Designer, Program Director, Real-Time 3D Designer, Slim Designer, Sythetic Biologist/Nanotech designer, dan pengemudi Uber.

Jika singularity membuat semua jenis profesi desain terhapus dari muka bumi, dan jika kendaraan swatantra belum merajai bisnis Uber, maka kita harus bersiap diri akan sebuah modifikasi profesi di masa depan.

SHARE
1 Komentar

Achmad Rizal
Sabtu, 11/08/2018 03:16

testing