Konservatisme Akibat Kebencian yang Mendorong Kekuatan Pengkultusan
11.08.18 / Isti Dhaniswari

Rasa takut dan kebencian mengakibatkan peningkatan etnisisme, xenofobia, bigotri, dan kondisi delusif. Sebagian percaya bahwa hanya satu atau bebe-rapa kelompok masyarakat mempunyai derajat yang lebih tinggi dari lainnya.

Rasa takut dan kebencian mengakibatkan peningkatan etnisisme, xenofobia, bigotri, dan kondisi delusif. Sebagian percaya bahwa hanya satu atau bebe-rapa kelompok masyarakat mempunyai derajat yang lebih tinggi dari lainnya. Komunitas-komunitas segregatif muncul untuk mempertahankan “kemurnian” kelompoknya. Meskipun informasi gratis membanjir, masyarakat menjadi cenderung konservatif, menyempitkan pemikiran, dan hanya mengizin-kan pendapat-pendapat yang mirip untuk dicerna sel-sel otaknya, bahkan mengusir dan menyangkal fakta-fakta yang tidak cocok dengan apa yang dipercaya. Segregasi, rasisme, dan benteng-benteng idealisme yang menghakimi dibangun di bawah kamuflase yang modern dan berpendidikan. Dikemudikan oleh pemimpin-pemim-pin aliran konservatif yang berambisi besar, gelombang ini berkembang menjadi sangat besar, membiakan serangan-serangan yang meletup-le-tup, menyerang siapapun yang dianggap mengganggu idealismenya.

 

Menurut “Der Spiegel”, menjelang pemilihan umum Jerman, sebuah aliansi aktivis ekstremis jaring internasional sibuk menyebarkan kebencian, berita palsu, dan propaganda Kremlin dalam usaha untuk membantu partai populis garis kanan “Alternatif untuk Jerman”. Kelompok tersebut terorganisasi secara militan, dan sebagai tambahan dari saluran YouTube yang memiliki 33.000 pelanggan, mereka menemukan habitat baru: aplikasi pesanDiscord. Dalam pusat komando disinformasi anonim ini, para pelaku yang memproklamirkan diri sebagai “Perwira”, “Prajurit” dan “Kader” mendapatkan “Tugas harian”. Dengan cara seperti ini, mereka menyebarkan tagar #verraeterduell (duel penghianat) di Twitter pada acara debat antara Kanselir dari partai Christian Democratic Angela Merkel dan penantangnya dari partai Social Democratic, Martin Schulz.

Grup-grup seperti “Reconquista Germanica” mengunggah foto-foto yang dimanipulasi dan kolase-kolase de-ngan tujuan membuat meme tersebut menjadi viral sambil mengkritik Angela Merkel, “partai-partai tua” (partai-partai politik Jerman yang telah lama berkibar), para pengungsi, dan media-media yang mereka benci. Satu-satunya kelompok yang tidak mereka serang adalah partai populis sayap kanan “Alternatif untuk Jerman” (AfD) yang anti Muslim dan anti imigran.

Ultra-nasionalisme, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak hanya berkibar di negara-negara yang memiliki sejarah supremasi kulit putih, seperti di Jerman dan di Amerika Serikat. Di negara-negara yang penampilan rakyatnya tidak masuk pada definisi ideal bangsa Arya seperti di Mongolia, ultra-nasionalisme menjadi sebuah pandangan yang membesarkan hati terhadap budaya dan bangsa atau untuk mengembalikan romantisme dan kepercayaan diri dengan mengingat kekuatan pemerintahan negara agama, seperti yang ditampilkan dalam adegan-adegan seri sejarah fiksi Turki, Muhtesem Yüzyil.

Bencana maya terbentuk dalam pemikiran manusia di seluruh dunia akibat munculnya rasa ketidakberdayaan melihat masa depan dunia yang terdisrupsi, memperkuat kepercayaan bahwa satu-satunya jalan untuk selamat hanyalah dengan berpegangan pada yang dipercaya sebagai kemurnian dari nilai-nilai konservatif.

SHARE
3 Komentar

Achmad Rizal
Kamis, 27/09/2018 00:38

good job


No Name
Sabtu, 11/08/2018 01:53

Maju Terus Bekraf


No Name
Sabtu, 11/08/2018 01:52

keren..